Selasa, 18 Februari 2014

SEMANTIK

A.      Semantik

1.      Pengertian Semantik

Istilah semantik dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Inggris semantics, yang asalnya dari bahasa Yunani, asal kata sema (nomina) yang berarti ‘tanda’; atau semaino (verba) yang berarti ‘menandai’ atau ‘berarti’.  Verhaar (1999: 385) mengemukakan bahwa semantik adalah cabang linguistik yang meneliti arti atau makna yang terbagi lagi menjadi semantik gramatikal dan semantik leksikal. George (1964:1) Mengatakan bahwa semantik adalah telaah mengenai makna. Semantik merupakan salah satu komponen dari tata bahasa (dua komponen lain adalah sintaksis dan fonologi), dan makna kalimat sangat ditentukan oleh komponen semantik ini. (Chomsky;1965). Dari pendapat para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa semantic adalah tataran bahasa yang mengkaji tentang makna bagian internal kata, kalimat atau sebuah wacana.

2.    Jenis-jenis Semantik

Sebelum mengelompokkan jenis-jenis semantik, kita harus melihat objek studi semantik. Karena kita telah memiliki keyakinan bahwa semantik adalah ilmu yang mengkaji makna bahasa, yang menjadi objek semantik adalah makna bahasa atau makna dari satuan-satuan bahasa, seperti kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana. Kalau yang menjadi objek penyelidikannya atau pengkajiannya wacana, jenis semantiknya disebut semantik wacana.
a.       Semantik Wacana →objek kajian makna wacana
Contoh: Bandingkan kedua wacana dibawah ini!
Wacana A
Tidak banyak makhluk hidup yang bisa bertahan di arus deras hulu sungai dengan air terjun dan jeramnya. Ikan tidak dapat menghadapi kecepatan arus air dan pusaran air. Salmon pasifik tidak takut pada arus deras sungai.
Wacana B
Tidak banyak makhluk hidup; yang bisa bertahan di arus deras hulu sungai  dengn air terjun dan jeramnya. Umumnya ikan tidak dapat menghadapi kecepatan arus air dan pusaran air sehingga mereka lebih senang tinggal didaerah hilir yang arusnya tenang. Salah satu ikan yang tidak takut pada arus deras sungai adalah ikan salmon pasifik.
Agak sulit bagi kita untuk memaknai wacana A karena wacana itu hanya berupa rangkaian kalimat-kalimat lepas yang tidak berhubungan secara logis. Ada rangkaian kalimat yang bertolak belakang. Kalimat “ikan tidak mampu menghadapi kecepatan air.” Bertolak belakang dengan kalimat “salmon tidak takut pada arus air.” Oleh karena itu, kita harus memperbaiki kalimat itu untuk membentuk kesatuan makna wacana yang runtun dan logis. Wacana B merupakan hasil perbaikan wacana A. Kalimat-kalimat dalam wacana B saling berhubungan satu dengan yang lainnya sehingga membentuk satu kesatuan makna yang utuh dan logis.  
b.      Semantik Gramatikal → makna-makna gramatikal (morfologi dan sintaksis)
Contoh: Sepatu → pembungkus kaki yang terbuat dari kulit atau karet
              Bersepatu → memakai sepatu
Konteks sintaksis
¨      Konteks Frasa. Contoh: - gadis → wanita muda yang belum menikah
-     gadis cantik → wanita muda yang belum menikah berwajah cantik
¨      Konteks Sintaksis. Contoh: -Di kebun binatang Bandung ada lima ekor
      beruang
                                             -Hanya orang yang beruang yang mampu
                                                                  membeli mobil mewah itu   
c.       Semantik Leksikal → leksikon yang belum dimasukkan ke dalam konteks
  gramatika (morfologi atau sintasis)
            Contoh: amanat → pesan atau wejangan
                          campur → berkumpul menjadi satu
                          dekat → pendek, tidak jauh
                          ganggu → goda, usik   

B.       Makna

1.    Pengertian Makna

Menurut Djajasudarma (1993: 5), makna adalah pertautan yang ada di antara unsur-unsur bahasa itu sendiri (terutama kata-kata), sedangkan menurut Palmer (1976: 30), makna hanya menyangkut unsur intrabahasa. Sementara, Lyons (1977: 204) menyebutkan bahwa mengkaji atau memberikan makna suatu kata adalah memahami kajian kata tersebut yang berkenaan dengan hubungan-hubungan makna yang membuat kata tersebut berbeda dari kata-kata lain. Dalam hal ini, menyangkut makna leksikal dari katakata itu sendiri yang cenderung terdapat di dalam kamus, sebagai leksem (dalam Djajasudarma,1993).

2.    Aspek Makna

Aspek makna menurut Palmer (1976) berdasarkan fungsinya terdiri dari empat aspek, yaitu:
a.       sense ‘pengertian’
Makna sense ‘pengertian’ dapat kita terapkan di dalam komunikasi sehari-hari yang melibatkan apa yang disebut dengan tema. Makna feeling ‘perasaan’, tone ‘nada’, dan intension ‘tujuan’ dapat kita pertimbangkan dalam pemakaian bahasa sehari-hari, baik bahasa Indonesia maupun bahasa daerah.
Aspek makna sense ‘pengertian’ ini dapat dicapai apabila antara pembicara/ penulis dan kawan bicara atau pembaca berbahasa sama. Makna pengertian disebut juga dengan tema, yang melibatkan ide atau pesan yang dimaksud dalam sebuah pembicaraan.
b.      feeling ‘perasaan’
Aspek makna feeling ‘perasaan’ berhubungan dengan sikap pembicara dan situasi pembicaraan. Di dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berhubungan dengan perasaan (sedih, panas, dingin, gembira, senang, jengkel, bosan, dsb.). pernyataan situasi yang berhubungan dengan aspek makna perasaan tersebut digunakan kata-kata yang sesuai dengan situasi pada saat pembicaraan berlangsung.
c.       tone ‘nada’
Aspek makna tone ‘nada’ adalah an attitude to his listener (‘sikap pembicara terhadap kawan bicara’) atau sikap penulis terhadap pembaca. Aspek makna nada ini melibatkan pembicara untuk memilih kata-kata yang sesuai dengan keadaan kawan bicara dan pembicara sendiri. Hubungan pembicara dengan pendengar (kawan bicara) akan menentuka sikap yang akan tercermin di dalam kata-kata yang akan digunakan, pemilihan kata-kata yang tepat untuk digunakan dalam pembicaraan. Aspek makna nada ini berhubungan pula dengan aspek makna perasaan, misalnya, bila kita sedang jengkel maka sikap kita akan berlainan dengan perasaan bergembira terhadap kawan bicara. Bila kita jengkel akan memilih aspek makna nada dengan meninggi, berlainan dengan aspek makna yang digunakan bila kita memerlukan sesuatu, maka akan mempergunakan aspek makna nada yang beriba-iba dengan nada merata atau merendah.
d.      intension ‘tujuan’
Aspek makna intension ‘tujuan’ ini adalah his aim, conscious or unconscious, the effect he is endeavouring to promote (‘tujuan atau maksud, baik disadari maupun tidak, akibat usaha dari peningkatan’). Aspek makna tujuan yang kita ungkapkan pasti memiliki tujuan tertentu. Misalnya, bertujuan supaya kawan bicara kita mengubah kelakuan (tindakan) yang tidak diinginkan oleh kita.

3.        Jenis Makna

a.      Makna Laksikal dan Makna Garamatikal
Laksikal adalah bentuk ajektif yang diturunkan dari bentuk leksikon (vokabuler,kosa kata, pembendaharaan kata). Satuan dari leksikon adalah laksem, yaitu satuan bentuk bahasa yang bermakna. Kaloa leksiokon kita samakan dengan kosa kata atau pembendaharaan kata , maka laksem  dapat kita persamakan dengan kata. Dengan demikina, makna laksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat laksikon, bersifat laksem, atau bersifat kata. Lalau, karena itu dapat pula dikatakan makna laksikal adalah makana yang sesuai dengan referennya, makna yang seduai dengan hasil observasi alat indra, atau makan yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Umpamanya kata tikus makna laksikalnya adalah sebangsa binatang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus.
Kata dalam bahasa Indonesia tidak semuanya bermakna leksikal. Kata-kata yang dalam garamatikal disebut kata penuh (full word) seperti kata meja, tidur, dan cantik memang memiliki makna leksikal, tetapi yang disebut kata tugas (function word) seperti kata dan, dalam, dan kerena tidak memiliki makna leksikal. Dalam gramatikal kata-kata tersebut dianggap hanya memiliki tugas gramatikal.
Makna leksikal biasanya dipertentangkan atau dioposisikan  dengan makna gramatikal. Kalu makna leksikal itu berkenaan  dengan makna laksem atau kata yang sesuai referennya, maka makna gramatikal ini adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses granatika seperti proses afeksi, proses reduplikasi, dan proses komposisi. Proses afiksasi awalan ter – pada kata angkat dalam kalimat Batu seberat itu terangkat juga oleh adik melahirkan makna ‘dapat’, dan dalam kalimat ketika  balok itu ditarik, papan itu terangkat keatas  melahirkan makan gramatikal ‘tidak sengaja.’
Makna garamatikal itu bermacam-macam. Setiap bahasa mempunyai sarana atau gramatikal tertentu untuk menyatakan makna-makan, atau nuansa-nuansa makan gramatikal itu. Untuk menyatakan makan ‘jamak’ bahasa Indonesia menggunakan proses reduplikasi seperti kata buku yang bermakan ‘sebuah buku’menjadi buku-buku yang bermakna ‘banayk buku’.
Dalam bahasa Indonesia bentuk-bentuk kesedihan, ketakutan, kegembi-raan dan kesenangan memiliki makna garamatikal yang sama, yaitu hal yang disebut kata dasar.tetapi dalam bentuk atau kata kemaluan yang yang bentuk gramatikalnya sama dengan deretan kata diatas, memiliki makan yanglain
b.      Makna Referensial dan Nonreferensial
Perbedaan makan referensi dan makna nonreferensial berdasarkan ada tidaknya referensi dari kata-kata itu.bila kata-kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu diluer bahasa yang diacau oleh kata itu maka kata tersebut disebut kata bermakna nonreferensial. Kata meja dan kursi termasuk kata yang bermakna referensial karena keduanya memiliki referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga yang disebut ‘meja’ dan ‘kursi’. Sebaliknya kata karena dan tetapi  tidak mempunyai referen. Jadi, kata karena dan kata tetapi termasuk kata yang bermakna nonreferensial.
Dapat disimak bahwa kata-kata yang termasuk kategori kata penuh, seperti sudah disebutkan dimuka, adalah termasuk kata-kata yang bermakan referensial; dan yang termasuk kelas kata tugas seperti proposisi dan konjungsi, adalah kata-kata yang termasuk kata bermakna nonreferensial.
Di sini perlu dicatat adanya kata-kata yang referennya tidak tetap. Dsapat perpindah dari satu rujukan kepada rujukan lain, atau jiga dapat nerubah ukurannya. Kata-kata yang seperti ini disebut kata-kata diktis. Misalnya kata ganti aku dan kamu. Kedua kata ini (dan juga kata ganti yang lain) memiliki rujukan yang berpindah –pindah, dari persona yang satu kepersona yang lain. Contoh lain, perhatikan referen kata di sini dalam ketiga kalimat berikut !
  1. Tadi dia duduk disini
  2. ”Hujan terjadi hamper setiap hari disini”, kata walikota Bogor.
  3. Di  sini, di Indonesia, hal seperti itu sering terjadi.

Bedah Buku Tatabahasa Karya Dr. Gorys Keraf


A.    Identitas Buku


 

Judul Buku            :  TATABAHASA  INDONESIA 
Penulis                   :  Dr. Gorys Keraf
Penerbit                 :  Nusa Indah
Cetakan                 :  X
Tahun Terbit          :  1984
Cetakan Pertama   : Tahun 1970
Panjang Buku        :  20,9 cm
Lebar Buku           :  14,5 cm
Tebal Buku            : 195 Halaman
Sampul Buku        :  Warna hijau toska, ada lingkaran dan segitiga berwarna orange, judul tulisan berwarna putih
B.  Organisasi Buku
Buku berjudul  “ Tatabahasa Indonesia    karangan Dr. Gorys Keraf ini terdiri dari  13 bab yaitu :
Bab 1 Membahas tentang Bahasa
Bab 2 Sejarah dan Kedudukan Bahasa Indonesia
Bab 3 Tatabahasa
Bab 4 Fonologi
Bab 5 Morfologi I
Bab 6 Morfologi II- Kata
Bab 7 Morfologi III- Imbuhan (Afiks)
Bab 8 Kata Ulang
Bab 9 Kata Majemuk (kompositum)
Bab 10 Semantik dan Etimogi
Bab 11 Sintaksis I
Bab 12 Sintaksis II- kalimat tunggal
Bab 13 Sintaksis III- kalimat majemuk
C.  Sinopsis Buku
Bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat, berupa lambang bunyi suara, yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Fungsi bahasa secara umum yaitu sebagai alat komunikasi atau alat perhubungan antar anggota-anggota masyarakat.Perkembangan Bahasa Indonesia dibagi dalam beberapa periode yaitu sebelum masa kolonial, masa kolonial dan pergerakan kebangsaan. Kedudukan bahasa Indonesia yaitu berdasarkan genealogi, tipologi, dan daerah. Tatabahasa merupakan suatu himpunan dari patokan-patokan umum berdasarkan struktur bahasa. Struktur bahasa meliputi bidang-bidang tata bunyi (fonologi), tatabentuk (morfologi), tatakalimat ( Sintaksis).
Fonologi adalah bagian dari tatabahasa yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa pada umumnya dalam ilmu bahasa. Morfem adalah kesatuan yang ikut serta dalam pembentukan kata dan yang dapat dibedakan artinya. Dalam bahasa Indonesia terdapat dua macam morfem, yaitu morfem dasar atau morfem bebas seperti kerja, puas, kayu dan lain sebagainya. Selain morfem dasar terdapat morfem terikat yaitu seperti pe-, -an, pe-an, ter- dan lain sebagainya.
Pembagian jenis kata yaitu pembagian jenis kata menurut tata bahasa tradisional dan pembagian jenis kata baru, yang termasuk jenis kata menurut tata bahasa tradisional yaitu tata bahasa nomina , kata kerja atau verba, kata sifat adjektiva, kata ganti atau pronomina kata keterangan atau adverba. Kata-kata berimbuhan (berafiks) dapat dibagi atas kata-kata yang mengandung prefiks, infiks, sufiks, dan konfiks.
Kata ulang disebut juga dengan reduplikasi. Macam-Macam Kata Ulang Ulangan atas suku kata awal (dwipurwa). Ulangan atas seluruh bentuk dasar (ulangan utuh). Misalnya rumah menjadi rumah-rumah, buah menjadi buah-buah. Pengulangan dwilingga salin suara. Misalnya gerak-gerak menjadi gerak-gerik, sayur-sayur menjadi sayur-mayur. Ulangan berimbuhan, misalnya bermain-main, berjalan-jalan, memukul-mukul, dan lain sebagainya.
Semantik bagian tatabahasa yang meneliti makna dalam bahasa tertentu, mencari asal mula dan perkembangan dari arti suatu kata. Macam-macam arti : arti leksikal ,arti struktural dan polisemi. Beberapa macam gejala perubahan bentuk yang dialami sebuah kata asimilasi, disimilasi, diftongisasi, monoftongisasi, haplology, anaptiksis, metatesis, aferesis, sinkop, apokop, protesis, epentesis dan paragog.
Sintaksis (Yunani: Sun+ tattein = mengatur bersama-sama) adalah bagian dari tatabahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa. Batasan kalimat yaitu suatu bagian ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa ujaran itu sudah lengkap. Apabila tidak timbul kesenyapan-kesenyapan itu maka sangatlah sulit untuk memahami dan menganalisa amanat atau maksud seseorang. Kontur adalah suatu bagian dari arus ujaran yang diapit-apit oleh dua kesenyapan, kesenyapan akhir dan awal. Kesenyapan awal adalah kesenyapan yang mendahului bagian suatu arus ujaran, sedangkan kesenyapan akhir adalah kesenyapan yang mengakhiri suatu tutur. Namun dapat terjadi juga ditengah-tengah suatu arus ujaran dapat timbul perhentian sementara yang berlangsung dalam suatu waktu yang pendek, kesenyapan ini dinamakan kesenyapan antara atau kesenyapan non-final.
Pola kalimat akan menentukan apakah kalimat tersebut termasuk pada kalimat tunggal ataukah kalimat majemuk. Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri dari dua unsur inti dan boleh diperluas dengan satu atau lebih unsur-unsur tambahan, asal unsur-unsur tambahan itu tidak boleh membentuk pola baru. Macam-macam kalimat tunggal yaitu kalimat berita, kalimat tanya, kalimat perintah .Kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih adalah kalimat majemuk. Macam-macam kalimat majemuk adalah kalimat majemuk setara, majemuk bertingkat dan kalimat majemuk campuran.
       Keunggulan Buku
Adapun keunggulan dari buku ini adalah
1.      Setiap Sub bab dari buku ini terdapat batasan materi yang  memudahkan pembaca dalam memahami isi materi yang dijelaskan.
2.      Penjelasan dalam buku ini disajikan secara sistematis
3.      Penulisan dalam buku ini sudah sesuai dengah kaidah EYD
4.      Terdapat contoh dalam setiap sub bab yang dapat memudahkan pembaca dalam memahami isi materi.
5.      Didalam buku ini juga dilengkapi dengan lampiran yang berisi pedoman umum ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan dan terdapat cara penggunaan huruf, tanda baca,pemakaian huruf, penulisan huruf dan tanda titik koma yang bermanfaat untuk pembaca dalam menambah wawasannya.
E.                 Kelemahan Buku
Adapun kelemahan dari buku ini adalah
1.      Ada beberapa kata yang diulang-ulang sehingga pembaca harus lebih teliti dalam memahami isi bacaan.
Contoh :
“kita tidak akan memahami sebaik-baiknya segala macam bunyi-ujaran bila kita tidak mengetahui sebaik-baiknya tentang alat-ucap yang menghasilkan bunyi-bunyi tersebut”
2.      Beberapa materi mempunyai pengertian dan contoh yang hampir  sama sehingga terkadang  membingungkan pembaca.
F.                   Simpulan dan Saran
         Terlepas dari kekurangan dari buku ini kami menyimpulkan bahwa buku ini sangat layak dan wajib untuk dibaca serta sangat bermanfaat untuk menambah wawasan tatabahasa Indonesia. Buku ini juga sangat dianjurkan untuk dibaca oleh mahasiswa, guru, maupun calon pendidik. Kami yakin pemirsa yang membaca buku ini tidak akan pernah  rugi dan termasuk kedalam orang yang beruntung.